Teknologi Backbone Untuk Internet & IntraNet - My articles - Publisher - SMK Negeri 2 Baleendah
Sunday, 2016-12-04, 10:15 PMWelcome Guest | RSS

 SMKN 2 Baleendah
   Official Website
SMKN2Baleendah menu
Section categories
My articles [4]
LINUX [3]
trouble shooting [5]
komputer jaringan [6]
komputer jaringan
website [2]
website
troubleshooting komputer [2]
troubleshooting
tips & trik [4]
tips & trik
macremedia flash [1]
macremedia flash
VIDEO TUTORIAL [4]
VIDEO TUTORIAL
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0

Publisher


Main » Articles » My articles

Teknologi Backbone Untuk Internet & IntraNet
Teknologi Backbone Untuk Internet & IntraNet

Onno W. Purbo


Salah satu masalah utama di perkembangan Internet dan jaringan data di Indonesia adalah sulit dan mahalnya jaringan komunikasi jarak jauh untuk backbone antar korporate, warnet ke Internet, perusahaan ke Internet, dan RT/RW-net yang memungkinkan kita mengakses dari rumahan ke Internet 24 jam.

Target market untuk Internet 24 jam telah mencapai rumahan. Hal ini sangat terasa dengan berkembangnya warnet-warnet kecil, bahkan RT/RW-net di banyak tempat. Yang memungkinkan pelanggan mengakses Internet non-stop seharga Rp. 150-300.000 / bulan. Di Semarang, anak-anak mahasiswa kos berfikir untuk membuka kos-kos-an-net seharga Rp. 60.000 / bulan. Tentunya hanya dengan keberadaan backbone data yang baik, mudah dan murah akan memungkinkan ini semua terjadi.

Secara fisik memang ada beberapa alternatif backbone yang sering digunakan, yaitu teknologi satelit, microwave dan fiber optik. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya.

Yang mudah implementasinya adalah menggunakan teknologi satelit tapi delay satelit yang 500ms cukup membuat percakapan telepon menjadi tidak nyaman, untuk keperluan data sebetulnya tidak terlalu masalah. Belakangan ini mulai muncul jasa komunikasi data menggunakan satelit pada Ku-Band yang di kenal dengan DVB-RCS. Jasa ini agak murah, dengan konsekuensi biasanya akan putus sekitar 5 menitan, jika ada awan hujan di atas antenna.

Teknologi microwave biasanya digunakan untuk jarak yang tidak terlalu jauh, umumnya setiap 40-50km di pasang relay untuk membangun jaringan Microwave jarak jauh. Teknologi microwave yang agak dipaksakan seperti WiFi, dan generasi yang lebih bagus WiMAX menjadi primadona bagi pengguna jaringan data kecepatan tinggi sampai dengan 100Mbps terutama untuk mencapai tujuan-tujuan di dalam sebuah kota. Biaya menjadi salah satu faktor kesuksesan implementasi WiFi & WiMAX di sebuah kota. Teknologi telepon 3G mulai di dengungkan belakangan ini; tapi dengan kecepatan 3G yang hanya sekitar 2Mbps, sebetulnya tidak menarik bagi backbone data jarak jauh.

Bagi mereka yang serius untuk melakukan sambungan data kecepatan tinggi jarak jauh, pilihan media komunikasi yang paling baik adalah fiber optik. Fiber optik mempunyai kecepatan sangat tinggi dan delay sangat rendah. Pada hari ini, tidak banyak operator telekomunikasi di Indonesia yang berani mengimplementasi backbone fiber optik jarak jauh, setahu saya, hanya Telkom, PLN, XL dan sedikit Indosat. XL tampaknya termasuk agresif, di akhir tahun 2005, saat saya perjalanan ke Padang Panjang, tampak XL sedang menggali jalan untuk fiber optik sepanjang jalur tengah sumatra.

Yang sering terlupakan dalam pemilihan teknologi backbone untuk Internet adalah protokol routing di atasnya. Pemilihan teknologi protokol routiung ini yang nantinya akan menentukan apakah sebuah backbone menarik untuk digunakan bagi komunikasi data atau tidak.

Pada dasarnya ada dua mashab / aliran dalam penggunaan protokol routing di backbone infrastruktur telekomunikasi fiber optik. Dua aliran yang mengatur standar control komunikasi optik dilakukan secara independen oleh dua badan standard dunia, yaitu,

International Telecommunications Union (ITU), yang mengembangkan Architecture for Automatically Switched Optical Networks (ASON)
Internet Engineering Task Force (IETF), yang mengembangkan Generalized Multi-Protocol Label Switching (GMPLS).

Dua badan dunia ini sangat bertentangan, ITU adalah tempat bernaung para regulator telekomunikasi dan operator telekomunikasi “tua” (termasuk telkom & indosat) secara tradisional akan memilih jalur formal, resmi dan sangat top down. Sedang IETF, adalah badan dunia yang menjadi kunci di balik perkembangan Internet, biasanya mengambil jalan sangat demokratis, terbuka, open standard, praktis mengadopsi yang terbaik yang ada di lapangan, dan yang lebih penting lagi IETF lebih mendarah daging dalam komunikasi data dan Internet. Cukup masuk akal karena IETF memang besar bersama Internet dan protokol IP.

Tidak terlalu mengherankan jika bagi mereka yang ingin secara serius menggunakan backbone fiber optik untuk trafik data berbasis IP maka pilihan terbaik akan jatuh pada keluarga protokol MPLS. Salah satu kelebihan MPLS adalah mekanisme pe-label-an dari data yang di lalukan. Dengan menggunakan label, router dapat mengetahui proses / mekanisme penanganan seperti apa yang perlu di berikan pada data tertentu.

Tidak heran, kita dapat dengan mudah membangun jaringan Internet Telepon (VoIP), Virtual Private Network yang aman, dan Internet komoditi melalui serat optik yang sama, tanpa saling mengganggu satu sama lain. Dari sisi operator menjadi lebih fleksibel untuk menjamin Quality of Service kepada pelanggan.

Pada hari ini, tidak banyak operator telekomunikasi di Indonesia yang secara explisit dan serius menggunakan keluarga MPLS dalam memberikan servis-nya. Setahu saya yang cukup serius adalah XL dan Lintas Arta. Bedanya, XL mempunyai kabel fiber sendiri tapi tidak pada Lintas Arta. Hal ini sangat berpengaruh pada kemampuan sebuah operator untuk memberikan jasa backbone yang mudah, murah dan andal.

Category: My articles | Added by: smkn2be (2009-07-31)
Views: 513 | Rating: 0.0/0 |
Total comments: 0
Name *:
Email *:
Code *:
Login form
Search